Category Archives: vaksinasi

Program Vaksinasi Penyakit ILT

Penyakit ILT merupakan penyakit yang lebih sering menyerang ayam petelur dibandingkan dengan ayam pedaging. Hal itu dikarenakan umur pemeliharaan ayam pedaging yang relatif singkat. Meskipun hospes primer virus ILT adalah ayam dari segala umur namun ayam umur 7-22 minggu lebih sensitif. Dari data di lapangan menunjukkan bahwa ayam terserang ILT adalah ayam yang berusia diatas 22 minggu. Defisiensi vitamin A, kondisi stres dan kadar amonia yang tinggi dalam kandang bisa mendukung timbulnya kasus ILT yang lebih berat. Faktor lain seperti masuknya bibit pullet yang sebelumnya pernah divaksin ILT ke wilayah peternakan bebas ILT dan status carrier dari ayam yang pernah terserang ILT dalam waktu lama, bisa menjadi sumber infeksi ILT. Penyakit ILT bisa berkomplikasi dengan agen penyakit lain, misalnya CRD dan korisa.

Peternakan yang terserang akan mengalami kerugian baik materi maupun tenaga, untuk itu diperlukan program vaksinasi ILT. Vaksinasi ILT biasa menggunakan vaksin aktif dan berfungsi merangsang terbentuknya kekebalan ayam. Pemberian vaksin ILT dapat dilakukan dengan tetes mata, air, minum, dan spray. Program vaksinasi juga bisa ditentukkan oleh sejarah kasus serangan ILT pada pemeliharaan sebelumnya yaitu 2-3 minggu sebelum terjadi outbreak. Setelah vaksinasi, terjadinya reaksi post vaksinasi bersifat normal karena virus ILT mengalami multiplikasi pada jaringan tubuh ayam yang disukai yaitu laryng, trakea, dan kelenjar harderian mata. Proses multiplikasi tersebut melibatkan proses teralokasinya cadangan gizi dan energi tubuh ayam untuk dimanfaatkan mikroba vaksin membentuk antibodi. Reaksi post vaksinasi ILT ini akan hilang dengan sendirinya dalam waktu 7-10 hari setelah vaksinasi. Apabila terjadi reaksi post vaksinasi dalam waktu lebih lama atau gejala klinis lebih parah bahkan muncul kematian, hal ini merupakan indikasi bahwa telah terjadi reaksi post vaksinasi yang berlebihan.

Tingkat reaksi post vaksinasi yang berlebihan berpengaruh terhadap tingkat pembentukkan antibodi atau kekebalan yang dihasilkan. Untuk meminimalisir timbulnya reaksi post vaksinasi yang berlebihan, maka perlu diperhatikan dosis dari vaksin tersebut. Vaksinasi tidak diberikan kepada ayam yang stres atau sedang memiliki penyakit immunosupresif, pelaksanaan vaksinasi harus dilakukan pada seluruh flok ayam secara serentak dalam satu hari an bertujuan untuk mencegah terjadinya rolling reaction, perlunya menghindari pemberian vaksin aktif secara berdekatan khususnya vaksin yang terget organnya di saluran pernafasan seperti ND, dan IB karena bisa meningkatkan reaksi post vaksinasi ILT, kurangi konsentrasi debu dan amonia dalam kandang. Konsentrasi debu dan amonia dalam kandang yang tinggi juga akan semakin memperburuk kondisi ayam yang sedang mengalami reaksi post vaksinasi.

Inovasi Vaksin Inaktif pada Ayam Petelur

Penggunaan vaksin inaktif merupakan hal yang penting guna memberi kekebalan pada ayam. Kekebalan ini sangat penting bagi individu ayam sendiri ataupun bagi kekebalan yang akan diberikan kepada ayam induk kepada DOC (maternal antibodi). Vaksin inaktif tidak menimbulkan spreading virus anta individu ayam dalam satu populasi seperti halnya vaksin aktif, sehingga individu yang tidak tervaksin dosis penuh atau tidak tervaksin sama sekali tidak akan mencapai level kekebalan yang diharapkan. Oleh karena itu, aplikasi dari vaksin inaktif merupakan salah satu kunci keberhasilan vaksinasi. Untuk pelengkap anda juga boleh baca artikel sebelumnya tentang jenis vaksin pada ayam petelur

Jenis adjuvant di vaksin inaktif merupakan faktor penting yang mempengaruhi munculnya kekebalan dan pada umumnya produsen vaksin inaktif menetukkan adjuvant yang disesuaikan dengan kebutuhan. Ada dua jenis adjuvant yaitu oil adjuvant dan alluminium hydroxide dan dari segi vaksinasi, perbedaan antara kedua jenis adjuvant itu adalah perbedaan reaksi post vaksinasi, perbedaan kesulitan emulsi dan reaksi kekebalan yang ditimbulkan. Sehingga kemampuan serta keterampilan dari team vaksinator menjadi hal penting bagi keberhasilan vaksinasi ini. Apabila proses vasinasi tidak maksimal akan menyebabkan level kekebalan yang kurang baik, tingkat keseragaman vaksinasi yang rendah serta gejala post vaksin yang tinggi. Reaksi post vaksin yang terlalu tinggi pada ayam pullet akan menyebabkan terganggunya pertumbuha dan keseragaman berat badan.

Pemberian vaksin pada ayam biasanya menggunakan injector, perlu diketahui bahwa penggunaan injector otomatis pada ayam yang divaksin menunjukkan penambahan berat badan dan keseragaman yang lebih baik dibandingkan dengan ayam yang menggunakan manual injektor / socorex. Pada pengamatan hasil titer EDS menunjukkan bahwa penggunaan injector otomatis memberikan respon yang lebih baik dan seragam yang terlihat dari mean titer lebih tinggi dan sergam di 7 minggu setelah vaksin. Selain aplikasinya yang cukup mudah, dosis vaksin menjadi lebih akurat sehingga berdampak pada keseragaman titer. Dengan adanya teknologi baru iharapkan menjadi solusi bagi peternak layer dalam hal peningkatan kualitas vaksinasi di ayam pullet sehingga peternak tidak hanya memaksimalkan efikasi vaksin (titer) tetapi juga tetap mempertahankan safety (tidak menganggu pertumbuhan) dari aplikasi tersebut.