Category Archives: Telur

Menjaga Kualitas Produksi Telur sejak Dini

Pengembangan usaha peternakan ayam petelur di Indonesia masih memiliki prospek yang sangat cerah. Hal itu karena telur merupakan primadona asupan protein hewani sebagian besar masyarakat Indonesia. Sebagian besar aspek yang menentukan berhasilnya usaha peternakan ayam petelur adalah aspek pencapaian produktivitas dan aspek finansial. Untuk itu, maka kedua aspek tersebut harus dapat dipenuhi, produksi telur, kuantitas dan kualitas telur yang dihasilkan, harus mencapai maksimal. Namun sejauh ini, para peternak rakyat masih memiliki beberapa masalah yang dapat menurunkan produksi serta kualitas telur.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab menurunnya produktivitas ayam petelur, diantaranya adalah faktor penyakit, selama ini sering dianggap sebagai penyebab utama berkurangnya produksi telur. Penyakit dapat menyebabkan disfungsi organ, baik organ pencernaan, organ pernafasan, atau organ reproduksi telur yang bersentuhan langsung dengan produktifitas telur. Diantara jenis penyakit tersebut yang sering menjadi momok peternak adalah ND, AI, IB, dan EDS. Untuk mendapatkan hasil yang baik, tentu saja memerlukan pullet yang berkualitas baik pula. Kualitas pullet yang kurang baik ditandai dengan berat badan dan keseragaman pullet rendah. Ketidakseragaman ini dapat mengakibatkan ketidakseragaman awal produksi dan ketidakseragaman ukuran telur yang dihasilkan. Ciri lainnya adalah lamanya ayam mencapai dewasa kelamin sehingga awal produksi terlambat. Adanya pullet yang memiliki tulang pubis yang kecil sendiri dapat mengakibatkan ukuran telur yang dihasilkan menjadi lebih kecil atau tidak seragam. Kualitas ransu yang buruk dan tidak seimbang serta ransu yang mengandung mikotoksin menyebabkan penurunan produksi telur, sedangkan ayam yang tidak minum beberapa jam akan tidak menghasilkan telur selama berminggu-minggu.

Bahkan ayam petelur akan berhenti berproduksi sebelum umur 40 minggu, dapat berakibat pada penurunan jumlah produksi telur. Manajemen pemeliharaan perlu diperhatikan, yakni cukupnya intensitas pencahayaan, kurangi penyebab stress unggas. Ayam petelur yang memasuki masa produksi, membutuhkan 16 jam pencahayaan untuk memperoleh jumlah produksi telur optimal. Faktor pencahayaan pada masa pullet juga berhubungan dengan pencapaian berat, ukuran telur, dan kematangan saluran reproduksi. Secara umum kematangan saluran reproduksi terlalu dini akan menyebabkan telur yang kecil. Dan apabila kematangan terlambat akan menghasilkan telur yang abnormal. Stress juga mengganggu produksi telur, biasanya diakibatkan perubahan cuaca, pindah kandang, serangan parasit ataupun perlakuan kasar peternak.

3 Penyakit Penyebab Turunnya Produksi Telur

Perbaikan manajemen pemeliharaan perlu dilakukan untuk menghasilkan pullet dengan performa yang baik sampai umur panen. Penyakit ayam petelur merupakan penyakit disfungsi organ, yakni tidak berfungsinya organ ayam yang terinfeksi mikroorganisme penyebab penyakit secara normal, baik organ pencernaan, organ pernafasan, central neuro system (CNS) maupun organ reproduksi yang berhubungan langsung dengan proses pembentukkan telur. Munculnya permasalahan tersebut disinyalir merupakan kesalahan peternak, seperti kandungan nutrisi pakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan ayam. Selain itu, faktor penyakit merupakan salah satu penyebab utama terjadinya penurunan produksi telur. Diantara jenis penyakit tersebut adalah ND, AI, AE, virus, IB Myoplasma gallisepticum, dan Paramyxoviruses lainnya. Namun yang selama ini menarik perhatian Technical Services, Praktisi Perunggasan dan akademisi adalah IB, ND, Egg Drop Syndrome (EDS 76).

Pertama adalah penyakit ND, penyakit ini masih saja mengusik peternak sebagai penyakit klasik. ND selalu menjadi momok karena angka kematian yang tinggi dan dapat mencapai 100%. Penyebarannya terbilang sangat cepat, baik pada ayam ras maupun pada ayam buras. Menurut para ahli, penyakit ini dapat menular ke manusia dengan gejala klinis conjunctivitis (radang konjunctiva mata) namun jarang dijumpai. Virus penyakit ini dapat ditemukan pada organ-organ seperti alat pernafasan, pencernaan, dan syaraf. Penyakit ini dapat menyebar melaui kontak langsung dengan ayam yang sakit ataupun kotorannya. Penularan juga melalui pakan, air minum, kandang, tempat ransum, atau tempat minum, peralatan kandang yang tercemar, pengunjung, serangga, burung liar, angin atau udara sampai radius 5 km. Gejala ND yang dapat diamati adalah 1). Bersin, megap-megap, batuk, sukar bernafas, dan ngorok, 2). Gejala syaraf seperti sayap terkulai, kaki lumpuh, jalan mundur, serta leher dan kepala terpluntir, 3). Gejala pencernaan meliputi berak hijau, mata dan leher bengkak, produksi telur berhenti, kualitas telur jelek, warna abnormal, dan putih telur encer. Ha itu dikarenakan organ reproduksinya tidak dapat kembali normal. Sejauh ini jenis obat yang paling efektif adalah melalui pencegahan, melalui program vaksinasi yang baik.

Kedua adalah penyakit EDS 76, penyakit ini menyerang ayam petelur pada periode pertumbuhan dan periode bertelur. Penyakit ini disebabkan Hemagglutinating adenovirus, agen ini mampu mengaglutinasi erotrosit ayam, sehingga ayam akan mengalami anemia, penampakan luar tubuh ayam terjadi kepucatan pada vial dan jengger. Gejala awal EDS terlihat dari adanya telur yang warna kerabngnya coklat. Gejala diikuti dengan adanya telur yang memiliki kerabang tipis, kerabang lembek atau bahkan tanpa kerabang. Gejala klinis yang terjadi adalah kegagalan ayam mencapai target produksi telur atau tertundanya waktu produksi telur. Gejala tersebut muncul akibat ayam yang terinfeksi agen EDS 76 dapat memproduksi antibodi sebelum periode laten infeksi muncul. Periode infeksi laten ditandai dengan adanya penurunan produksi telur yang bisa mencapai kisaran 50% dan menjadi penghalang mencapai puncak produksi. Penyebab penyakit ini menyebar melalui kontak dengan unggas lain seperti itik dan angsa yang terpapar EDS 76. Penelitian menunjukkan unggas lain seperti itik dan angsa merupakan inang yang baik untuk virus ini. Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan cara memilih DOC dari telur yang induknya tidak tertular EDS 76.

Ketiga, di mata peternak kasus penyakit IB cukup dipandang serius. Hal itu karena IB dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan, penurunan efisiensi pakan, dan merupakan penyakit kompleks pada saluran pernafasan terutama terkolaborasi dengan E. Coli dan Myoplasma gallisepticum. Disamping itu, penurunan produksi telur dalam jumlah dan mutu, serta biaya penanggulangan yang relatif tinggi menjadikan IB sebagai penyakit strategis ayam petelur. Gejala IB berbeda pada masing-masing tingkat umur. Pada anak ayam yaitu, sesak nafas, ngorok, hidung berlendir, mata berair, ayam lesu dan mengerumuni pemanas, lendir dan eskudat pada trakea. Sedangkan pada ayam dewasa, tingkat produksi telur menurun, kualitas telur jelek, membutuhkan waktu yang lama penyembuhan, saluran telur yang mengeras. Pencegahan IB dapat dilakukan dengan cara meningkatkan pengamanan biologis dan pelaksanaan aspek manajemen lainnya secara optimal. Hal ini ditujukan untuk menghilangkan faktor pendukung atau sumber infeksi virus IB.