All posts by admin

Problematika Telur

Dalam usaha peternakan ayam petelur, parameter keberhasilan yang diukur meliputi 2 aspek, yaitu aspek pencapaian produktivitas dan pencapaian keuntungan. Namun kenyataannya , usaha ini masih memiliki beragam permasalahan yang menyebabkan turunnya produktivitas, baik secara kualitas maupun kuantitas. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab pencapaian produksi ayam petelur meliputi, faktor infeksius (penyakit), dan non infeksius (mutu bibit, kecukupan nutrisi, kondisi lingkungan dan manajemen pemeliharaan.

Keberhasilan produksi ayam petelur sendiri dilihat dari 2 nilai yaitu nilai kuantitas produksi dan kualitas. Jika persentase jumlah produksi telur tinggi namun kualitasnya rendah, maka peternak akan dihadapkan pada telur yang sulit dipasarkan. Begitu pula sebaliknya, jika kualitas telur bagus tapi persentase produksinya rendah maka peternaka akan dihadapkan pada kerugian ekonomi. Ayam petelur mulai berproduksi pada umur 17 – 18 minggu. Pada umur tersebut, ayam hanya mampu memproduksi 5% dari total potensinya, sedangkan pada masa puncak produksi pada umur 25 minggu berkisar 94 – 95%. Dan akan menurun secara konstan selama 52 – 56 minggu. Dan pada umur 80 minggu, jumlah produksi telah dibawah 70% dan pada kondisi itu ayam siap diafkir.
Sejak pertama kali bertelur hingga afkir, ukuran dan berat telur tidak akan sama setiap harinya. Seorang peternak harus memiliki respon untuk menetukkan apakah ukuran / berat telur yang dihasilkan sesuai / mendekati standart. Mengenai masalah warna telur, ada peternak yang menemukan telur tidak berwarna coklat. Warna coklat sendiri ditentukkan oleh faktor genetik yaitu adanya zat warna phorpyrin di saluran reproduksi ayam. Namun juga ditentukkan oleh asupan nutrisi pada ayam dan obat tertentu. Kondisi lingkungan dan penyakit juga bisa berpengaruh terhadap optimalnya pewarnaan kerabang telur.

Adapun faktor non infeksius yang dapat mengganggu produksi ayam broiler adalah kualitas pullet. Jangan bermimpi akan mendapatkan hasil produksi yang baik, jika kualitas pulletnya buruk. Ciri pullet yang dapat diamati adalah berat badan dan keseragaman pullet yang rendah. Selain itu, kualitas ransum yang nutrisinya kurang atau tidak seimbang serta mengandung zat-zat racun akan menyebabkan penurunan produksi telur. Setelah menyinggung pullet dan pakan, selanjutnya adalah manajemen pemeliharaan. Ayam yang memasuki masa produksi, membutuhkan 16 jam penyinaran agar produksi telur tetap maksimal. Faktor pencahayaan saat masa pullet juga berhubungan erat dengan pencapaian berat, ukuran telur dan kematangan saluran reproduksi. Stress juga dapat menyebabkan penurunan kualitas telur, bisa ditimbulkan karena perubahan cuaca, pemindahan kandang, serangan parasit, atau perlakuan kasar peternak.

butuh suplemen pemacu produksi telur??
gunakan VITAMAX
info 081392540789 pin bb 315DC376